Diam-Diam Deretan Emiten Ini Malah Cuan Dari Konflik di Laut Merah

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga saham emiten perkapalan potensi menguat seiring dengan adanya gangguan terhadap rute Laut Merah yang kian memanas akibat serangan militan Houthi di Yaman yang kemudian membuat biaya logistik melonjak.

Konflik di Laut merah memanas setelah pemberontak Houthi Yaman melancarkan serangan drone dan rudal terhadap kapal kargo di Laut Merah, dengan alasan mendukung warga Palestina di Gaza.

Serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Laut Merah oleh militan Houthi yang didukung Iran telah mendorong tarif angkutan laut lebih tinggi. Pasalnya, perjalanan pengiriman menjadi lebih lama karena para pengirim barang mengalihkan rute untuk melakukan perjalanan jauh di sekitar Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Padahal, hampir 15% perdagangan global melewati Laut Merah, yang merupakan pintu masuk ke Terusan Suez, rute pelayaran terpendek antara Eropa dan Asia. Selain itu, juga mewakili 30% dari seluruh lalu lintas peti kemas global, dan barang senilai lebih dari US$1 triliun per tahun.

Beberapa raksasa perkapalan dunia seperti Maersk, Mediterranean Shipping Company (MSC), Ocean Network Express (ONE), Hapag Lloyd, dan Hyundai Merchant Marine (HMM) memilih untuk menghindari perairan Laut Merah akibat serangan Houthi.

Serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah akhirnya mendorong tarif angkutan laut lebih tinggi karena banyaknya armada dagang yang memutar menghindari perairan itu. Ini memicu peringatan akan inflasi dan tertundanya pengiriman barang

Tarif angkutan barang dari Asia ke Eropa Utara terpantau sudah meningkat lebih dari dua kali lipat pada minggu ini menjadi di atas US$ 4.000 (Rp 62 juta) per unit 40 kaki.

Tarif dari Asia hingga Pantai Timur Amerika Utara juga meningkat sebesar 55% menjadi US$ 3,900 (Rp 60 juta) per kontainer berukuran 40 kaki. Harga di Pantai Barat naik 63% menjadi lebih dari US$ 2.700 (Rp 42 juta).

Menurut para manajer logistik, hal ini telah menciptakan badai besar dan “tsunami” dalam perdagangan global. Pasalnya, produk-produk musim semi dan panas akan tiba terlambat lantaran kapal-kapal dagang memutuskan untuk mengitari Benua Afrika alih-alih melewati Laut Merah dan Terusan Suez.

Waktu perjalanan yang lebih lama juga dapat menunda kedatangan barang-barang musim semi. Biasanya barang diambil sebelum Tahun Baru Imlek, yang ditetapkan pada bulan Februari, ketika pabrik-pabrik tutup dan karyawan pergi berlibur.

“Tekanan rantai pasokan yang menyebabkan inflasi bersifat ‘sementara’ pada tahun 2022 mungkin akan kembali terjadi jika masalah di Laut Merah dan Samudera

Hindia terus berlanjut,” kata Kepala Eksekutif Lindsey Group, Larry Lindsey, kepada CNBC International, Kamis (4/1/2023).

Berkaca pada hal tersebut, sebenarnya banyak kapal-kapal yang dirugikan karena harus lewat jalan memutar yang lebih jauh.

Kendati begitu, pelaku pasar nampak merespon sebaliknya, di mana sejumlah harga saham di sektor pelayaran ini malah ramai menguat. Misalnya saham PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) selama sebulan sudah menguat 20,69%.

Adapula saham PT PT Trans Power Marine Tbk. (TPMA) yang sudah menguat cukup signifikan hingga lebih dari 50% dalam enam bulan terakhir. Lainnya ada PT Habco Trans Maritime Tbk (HATM) sudah menguat 4,66% dalam sebulan, pergerakan harga saham perkapalan lain selengkapnya pada tabel berikut :

Penguatan harga saham tersebut tak lepas dari beberapa sentimen positif yang masih menyelimuti kinerja emiten perkapalan kendati ada serangan dari kelompok Houthi di Laut Merah.


Konflik Laut Merah Tak Halangi Prospek Cerah Emiten Perkapalan

Kebanyakan emiten perkapalan di Indonesia pada dasarnya tidak banyak yang mengirimkan barang ke Israel. Oleh karena itu, bagi kapal-kapal asal Tanah Air faktanya tidak terlalu kena dampak dari memanas-nya konflik di Laut Merah.

Sebaliknya, dengan memanasnya konflik di Laut Merah ini malah akan menjadi pendongkrak kenaikan harga logistik yang potensi membuat pendapatan naik.
Selain itu, industri perkapalan jenis tug dan barge jumlahnya sangat terbatas saat ini karena perlu waktu dua tahun dari pembuatan sampai siap beroperasi.

Ketersediaan kapal saat ini juga masih belum bisa mengimbangi kenaikan jumlah produksi komoditas. Sebut saja seperti batubara, padahal permintaan masih akan cukup tinggi mengingat potensi cuaca dingin yang lebih moderat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Di lain sisi, walaupun ada potensi pemutaran jarak jauh karena mengantisipasi konflik di Laut Merah yang menjadi pintu pertama menuju Terusan Suez, akan tetapi harga minyak mentah saat ini masih dalam tren penurunannya. Oleh karena itu, perusahaan paling tidak masih bisa menjadi beban tetap terjaga.

Lantas bagaimana valuasi saham emiten perkapalan, apakah masih murah?

Memperhitungkan dengan metrik valuasi Price to Book Value (PBV), ada dua saham perkapalan yang ternyata masih murah dengan nilai PBV di bawah rule price of thumb satu kali, yakni SMDR dan HAIS.

Sebagai pembanding juga, jika berdasarkan rata-rata industri menurut data Simply Wall St, PBV emiten perkapalan di Asia berada di angka 0,9 kali. Oleh karena itu, dari lima emiten perkapalan di atas yang terbilang masih murah adalah SMDR. https://gimanalagiyakan.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*